~~~ Selamat Datang di Website Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tanjungsari Sumedang, Semoga Website Ini Bermanfaat ~~~ Sumedang SIMPATI (Sejahtera, Agamis, Maju, Profesional, Kreatif) ~~~ Sumedang MELESAT (Melayani Lebih Berkualitas dan Cepat) ~~~ Peran Kostratani : 1. Pusat Data dan Informasi, 2. Pusat Gerakan Pembangunan Pertanian, 3. Pusat Pembelajaran, 4. Pusat Jejaring Kemitraan, 5. Pusat Konsultasi Agribisnis ~~~ Core Value ASN BerAKHLAK (Berorientasi Palayanan, Akuntabel, Kompeten, Hamonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif)~~~Selamat Hari Raya Idul Fitri 1424 H~~~

PENILAIAN BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) BERPRESTASI

Kegiatan Presentasi dalam rangka penilaian BPP berprestasi di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat

LABORATORIUM LAPANG PENYULUH

Sarana bagi para penyuluh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan teknologi pertanian yang akan disuluhkan pada petani binaan

KONSEP PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN P2L

P2l bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan pangan dan pendapatan keluarga

PERAN KOSTRATANI

Lima peran Kostratani dalam Pembangunan Pertanian

SEKOLAH LAPANGAN (SL) IPDMIP

Kegiatan Sekolah Lapangan (SL) IPDMIP Padi Sawah Di Kelompok Tani Medal Harapan Desa Kadakajaya Kecamatan Tanjungsari

PEKARANGAN PANGAN LESTARI (P2L) KWT HIKMATUSSALAM

Kegiatan Pengelolaan Lahan Demplot kegiatan P2L KWT Hikmatussalam Desa Kadakajaya

ADAPTASI VUB KEGIATAN SEKOLAH LAPANG IPDMIP

Penggunaan benih padi varietas Mekongga pada kegiatan Laboratorium Lapang (LL) SL IPDMIP Padi sawah di Kecamatan Tanjungsari

SOSIALISASI KARTU TANI

Kegiatan sosialisasi penggunaan kartu tani pupuk bersubsidi tingkat Kecamatan Tanjungsari

DEMPLOT BUDIDAYA TANAMAN PORANG

Kegiatan demplot usahatani tanaman porang di Kelompok Tani Mekar Mukti Desa Kadakajaya

DEMPLOT BUDIDAYA PADI HITAM

Kegiatan demplot usahatani padi hitam di Kelompok Tani Bibilitik 2 Desa Kutamandiri

PERAN PENYULUH DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUKIKASI (TIK)

Tuntutan peran penyuluh di era Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) yang semakin maju

SOSIALISASI PEMBENTUKAN KORPORASI PETANI

Kegiatan sosialisasi dalam rangka pembentukan korporasi petani ubi jalar se Kecamatan Tanjungsari

SUMEDANG SIMPATI

Sumedang yang Sejahtera Masyarakatnya, Agamis Ahlaqnya, Maju Daerahnya, Profesional Aparatnya dan Kreatif Ekonominya

Tampilkan postingan dengan label Tanaman Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman Pangan. Tampilkan semua postingan

Strategi Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat (WBC) Dan Virus Kerdil Rumput Dan Kerdil Hampa


Hama wereng batang coklat (WBC) merupakan hama utama tanaman padi sehingga menjadi hama yang sangat ditakuti petani karena bisa mengakibatkan gagal panen (fuso).WBC merupakan hama r-strategis; menghisap cairan batang tumbuhan padi, dapat berkembang biak dengan cepat, dan cepat menemukan habitatnya serta mudah beradaptasi dengan membentuk biotipe baru. Selain itu, hama ini menularkan juga penyakit virus kerdil hampa (VKH), virus kerdil rumput tipe 1 (VKRT-I) dan virus kerdil rumput tipe 2 (VKRT-2). Pada saat vegetatif VKH menyebabkan daun rombeng, tercabik, koyak, atau bergerigi, terkadang berwarna putih. tumbuh kerdil dengan tinggi 23,8-66,9% tertekan, keluar malai diperpanjang sampai 10 hari. Saat keluar malai tidak normal (tidak keluar penuh), daun bendera terjadi distorsi. Saat pematangan buah tidak mengisi dan menjadi hampa.

Perkembangbiakan WBC

WBC berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah dan tulang daun.Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.Satu ekor betina mampu meletakkan telur 100-500 butir.Telur menetas setelah 7-10 hari.Muncul wereng muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini menjadi wereng dewasa.Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa.

Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan periode nimfa adalah 12.82 hari. Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng batang coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal. Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng batang coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter.

Pada daerah lain stadium telur membutuhkan waktu antara 7-11 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat. Stadium nimfa terjadi 5 kali pergantian kulit dan waktu yang dibutuhkan pada masing-masing instar adalah 2-4 hari (lihat gambar 2) Wereng batang coklat dewasa mempunyai dua bentuk, sayap panjang (makroptera) dan sayap pendek (brakiptera). Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera populasi penetap.Suhu optimum untuk perkembangan antara 18-280C.

Serangan WBC tanaman Padi

Hama WBC yang berkembang pada tanaman padi ketika membentuk anakan dimulai oleh wereng bersayap panjang yang berpindah dari tempat lain. Jika wereng yang berkembang pada tanaman padi yang berumur 2 atau 3 minggu setelah tanam, maka WBC bisa berkembang biak menjadi dua generasi (Gb.1). Tetapi bila wereng yang menyerang tanaman padi yang

berumur 5-6 minggu setelah tanam, wereng yang berkembang biak hanya satu generasi yang puncak populasinya terjadi pada padi umur 9-10 minggu setelah tanam.

Pengamatan hama wereng harus dilakukan secara intensif dan rutin. Jangka waktu pengamatan minimal 3 hari sekali dan jika ada gejala muncul wereng segera dihitung populasinya.Jika populasi per rumpun 7-9 segera diatasi dengan pengendalian pestisida baik secara hayati maupun kimiawi.



Strategi Pengendalian WBC dan Virus Kerdil

1. Tanam Padi Secara Serentak

Tanam padi secara serentak dalam areal yang luas tidak dibatasi oleh batas administrasi. Wereng coklat imigran terbang bermigrasi tidak dapat dihalangi oleh sungai atau lautan. Bila suatu daerah panen atau puso maka wereng makroptera (bersayap panjang) akan terbang bermigrasi mencari tanaman muda dalam populasi tinggi, hinggap (landing) dan berkembang biak pada tanaman padi muda. Bila areal tempat migrasi sempit, maka populasi imigran akan padat.

2. Penggunaan Varietas Tahan

Penggunaan varietas tahan disesuaikan dengan keberadaan biotipe wereng coklat yang ada di lapangan. Saat ini, biotipe wereng coklat yang berkembang di lapang didominasi oleh biotipe 3 dan dibeberapa tempat telah ada biotipe 4 sehingga memerlukan varietas unggul baru (VUB) yang memiliki ketahanan terhadap biotipe tersebut. Badan Litbang Pertanian telah menyediakan beberapa VUB yang tahan terhadap biotipe tersebut, yaitu Inpari 13, Inpari 31 dan Inpari 33.

3. Perangkap Lampu (Light traps)

Wereng yang pertama kali datang dipesemaian atau pertanaman adalah wereng makroptera betina/jantan imigran. Pasang lampu perangkap (Gb.2) sebagai alat untuk menentukan kapan datangnya wereng imigran. Alat ini penting untuk mengetahui kehadiran wereng imigran dan dapat menangkap wereng dalam jumlah besar.

Lampu perangkap dipasang pada ketinggian 150-250 cm dari permukaan tanah.Hasil tangkapan dengan lampu 100 watt dapat mencapai 400.000 ekor/malam. Keputusan yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu:

- Wereng-wereng yang tertangkap dikubur
- Keringkan pertanaman padi sampai retak
- Segera setelah dikeringkan, kendalikan wereng pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasi

4. Waktu Pesemaian Padi

Penetapan waktu pesemaian ditentukan oleh kapan puncak wereng imigran yang tertangkap lampu perangkap. Bila datangnya wereng imigran tidak tumpang tindih antara generasi maka pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran.

Bila datangnya wereng dari generasi yang tumpang tindih, maka akan terjadi bimodal (dua puncak). Pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran ke-2.

5. Tuntaskan Pengendalian Pada Generasi 1

Catat waktu puncak populasi imigran awal sebagai generasi nol (G0), maka pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1, pda 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2, pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-3.

Pengendalian wereng yang baik yaitu:
Pada saat ada imigran makroptera generasi nol (G0) dan saat generasi ke 1 (G1) yaitu nimfa-nimfa yang muncul dari wereng imigran
Gunakan insektisida dengan bahan aktif, pymetrozine, dinotefuran, sebaiknya satu jenis insektisida tidak digunakan terus menerus dalam jangka waktu lama.
Pengendalian wereng harus selesai pada generasi ke 1 atau paling lambat pada generasi ke 2.
Pengendalian saat generasi ke 3 tidak akan berhasil.

6. Pengamatan Wereng Coklat di Pertanaman

Pengamatan atau Monitoring wereng coklat pada 1-2 minggu sekali. Ambil contoh 20 rumpun arah diagonal. Hitung jumlah wereng coklat pada minggu ke- i (Ai) dan musuh alami laba-laba + Paederus +Ophionea+Coccinella pada minggu ke-i (Bi) dan Cyrtorhinus pada minggu ke-i (Ci).

7. Penggunaan Insektisida

Penggunaan insektisida harus memperhatikan berbagai factor, antara lain:
Keringkan area sawah sebelum aplikasi insektisida baik yang semprotan atau butiran
Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang padi.
Tepat dosis dan jenisnya yaitu yang berbahan aktif Pymetrozine, dinotefuran.

8. Pengendalian Double Cover

Bila insektisida semprotan yang digunakan tidak atau kurang manjur maka pengendalian wereng coklat perlu didobel dengan memberikan insektisida sistemik melalui akar.

9. Pengendalian Penyakit Virus Kerdil

Sampai saat ini tidak ada virusida atau bahan lain yang dapat dipakai untuk mengendalian penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput (Gb3). Usaha yang dapat dilakukan adalah:
- Kendalikan wereng coklat terutama makroptera/bersayap sampai populasi serendah mungkin
- Hindari kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat
- Cabut dan benamkan inokulum penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput


Sumber : BPTP Jawa Barat

Kiat Meningkatkan Produksi Padi


Menjadi seorang petani yang sukses adalah mereka yang bisa meningkatkan hasil produksi tanamanya. Dari beberpa hal yang sering kita kenal dengan meningkatkan hasil yang maksimal mengharuskan petani mengerti bagaiman padi yang mereka bididayakan menginginkan apa.

Hanya dengan cara itu petani bisa meningkatkan hasil budidaya padi, mengerti apa yang tanaman butuhkan ternyata tidak semua petani yang melakukanya. Untuk meningkatkan hasil yang maksimal tidak membutuhkan biaya yang mahal, biaya bisa kita hemat untuk keperluan lain.

Yang kamu butuhkan sekarang adalah merespon bagaimana mereka membutuhkan asupan dan pengobatan. Secara teori mungkin tidak akan sama dengan praktik nya, dari itu saya tidak mempermudah bahasan ini karena terbukti lumayan cukup lama dalam pembuatan peningkatan.


Teknologi

Meningkatkan hasil pertanian dengan teknologi sangat berpengaruh sekali dari awal sampai panen nanti. Teknologi yang sekarang ini seperti jajar legowo dan system SRI sudah dilakukan, namun tidak terlalu bisa untuk diterapkan. Saya pada waktu 2012 tahun lalu belajar SRI dan memang metode SRI sangat masuk akal dan teknologi ini mulai dikembangkan lagi sampai ramai di masyarakat sekitar tahun 2016.

Pemanfaatan teknologi sangat bisa kita kembangkan, namun tidak semuanya bisa diterima oleh petani, teknologi bisa menaikan produksi apabila petani melihat dan merasakan langsung pada teknologi tersebut.

Jadi untuk meningkatkan hasil panen dengan teknologi mungkin sedikit sekali yang menggunakan, di desa – desa produksi padi lebih memilih cara nenek moyang mereka untuk bertani. Jika kamu berani coba dan ingin membuktikan bahwa teknologi juga bisa meningkatkan hasil pertanian silahkan.


Tahapan budidaya

Budidaya yang sekarang ini berjalan apakah kamu sudah yakin akan mendapat hasil yang maksimal ? Tentu saja tidak, tidak ada yang tahu dengan hasil yang akan di dapat. Namun kita bisa berusaha untuk memulai hal itu terjadi sejak sekarang.

Dalam satu tahun ada yang 1 – 2 – 3 kali panen. Itu tergantung daerahnya. Namun rasanya jarang sekali yang 4 kali panen dalam setahun. Sebenarnya petani sudah enggan menanam padi, sudah bosen mereka menanam. Namun karena padi adalah bahan pokok kita mereka menanam. Sisitem dalam buidaya sangat jelas, kita harus pintar menghitung kebutuhan tanaman.

Kebutuhan tanaman seperti di arahkan dan berfokus pada waktu pengaplikasian. Aplikasi tanaman seperti penyemprotan hama penyakit, memberikan pupuk, pengairan dan sebagainya harus tepat pada saat tanaman membutuhkanya.

Contoh :
Jika tanaman padi terserang hama atau penyakit biasanya petani menunggu serangan hebat dan setelah terserang mereka baru mengambil tindakan. Hal ini tentu salah, kita harus mencegah hama atau penyakit ketika tanaman menimbulkan gejala, bukan setelah terserang baru kalian semprot.


Menjaga ekosestem

Dengan menjaga ekosistem dan rantai makanan yang ada di alam, ini bisa membantu menaikan hasil produksi kita. Kita harus mulai dari sekarang menjaga alam seperti memberikan pupuk organik pada tanah, mengurangi bahan kimia, menggunakan musuh alami dan tanaman yang bisa mendukung padi kita tumbuh baik.

Dari sebagian besar petani tidak terlalu memikirkan hal itu, mungkin karena indonesia kelewat kaya. Dari sebuah hal kecil menjaga ekosistem bisa membantu kita menaikan produksi. Jangan menganggap kamu dengan waktu sangat singkat bisa mendapat hasil yang kamu inginkan.

Kita tidak bisa menghasilkan panen yang seperti media katakan (panen raya) saya rasa itu hanya bohong saja, aslinya setelah di cek mana mungkin tanah yang tercemar bahan kimia bisa meningkatkan hasil produksi sebesar itu. Lagi pula lahan pertanian di berbagai daerah sekarang semakin berkurang.

Jadi kita tidak bisa membuat tanaman padi kita langsung panen besar semuanya membutuhkan proses untuk kembali kesemula, kita tidak bisa memaksa tanaman untuk berproduksi besar. Hanya dengan bantuan teknologi dan memaksimalkan cara budidaya serta menjaga alam itu adalah hal yang tepat untuk sekarang ini.



~~~~NS~~~~

Pemupukan Pada Tanaman Padi Sawah


Cara pemupukan padi adalah salah satu kunci untuk mendapatkan hasil panen yang optimal dan berlimpah. Jika salah dalam memberikan pupuk, bukannya panen padi melimpah yang akan didapat tapi justru risiko tanaman padi menjadi rusak. Lalu bagaimanakah cara pemupukan padi yang tepat ?

Cara pemupukan berimbang pada tanaman padi harus dilakukan seiring dengan kondisi lapangan tempat padi di tanam. Untuk itu, harus diketahui umur tanaman padi terlebih dahulu. Sekarang ini banyak varietas padi berumur genjah yang dilepas oleh pemerintah. Contoh: Inpari 10 berumur 108-116 hari dan Inpari 13 berumur 103 hari. Sedangkan padi ciherang dan IR 64 umumnya berumur 115 -125 hari. Dengan melihat dua kondisi yang berbeda ini, petani seringkali mengalami kesulitan untuk menentukan kapan waktu pemupukan yang tepat bagi keduanya. Teknik pemupukan tanaman padi memang sangat relatif, tidak ada ukuran secara pasti dosis dan waktu yang ditentukan, karena banyak sekali faktor yang harus diperhatikan. Struktur tanah dengan kondisi unsur hara yang berbeda-beda di tempat satu dengan yang lainnya, tentu juga memerlukan teknik yang berbeda dalam hal pemupukannya.

 Salah satu contoh dosis, jenis pupuk dan waktu pemupukan yang tepat pada tanaman padi adalah sebagai berikut:

  1. Pemupukan susulan pertama dilakukan saat padi berumur 7-10 Pupuk yang digunakan adalah Urea 75 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCL 50 kg/ha.
  2. Pemupukan susulan kedua diberikan saat tanaman padi berumur 21 HST menggunakan pupuk Urea sebanyak 150 kg/ha.
  3. Pemupukan susulan ketiga pada saat umur padi 42 HST menggunakan 75 kg/ha Urea dan 50 kg/ha

Dari tiga kali pemupukan tersebut, dalam satu musim tanam padi pada luasan 1 hektar membutuhkan pupuk Urea (Nitogen) 300 kg, SP36/TSP (Phospor) 100 kg, dan KCl (Kalium) 100 kg.

Tanaman padi memerlukan banyak hara N dibanding hara P ataupun K. Pupuk Urea perlu diberikan sebanyak 3 kali, agar pemberian pupuk N menjadi lebih efisien terserap oleh tanaman padi. Sedangkan pemberian pupuk KCl dilakukan 2 kali, agar proses pengisian gabah menjadi lebih baik. Untuk memantau kecukupan pupuk Urea (Nitrogen) pada tanaman padi bisa menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Pada alat ini terdapat empat kotak skala warna, mulai warna hijau muda hingga hijau tua, yang menggambarkan tingkat kehijauan daun tanaman padi.

Berikut adalah empat panduan umum cara pemupukan padi yang dapat dapat dijadikan acuan.

Perhatikan usia tanaman

Sama seperti manusia, tanaman juga membutuhkan nutrisi yang berbeda-beda dalam setiap tahapan usia. Nutrisi yang dibutuhkan manusia pada saat masih bayi akan berbeda dengan saat sudah dewasa. Begitu halnya dengan tanaman, termasuk padi. Pada tahapan usia tertentu, padi membutuhkan nutrisi khusus. Saat padi masih berusia muda misalnya (0-2 minggu). Pada usia ini tanaman padi masih tumbuh dengan lambat sehingga belum terlalu membutuhkan urea (N). Sebaliknya, padi muda sangat membutuhkan fosfor (P), kalium (K), dan sulfur (S). Aturan ini juga berlaku saat memberikan pupuk majemuk. Perhatikan usia tanaman padi sebelum memberikan pupuk dengan dua kandungan yang berbeda (misal: pupuk SP sebaiknya diberikan pada saat padi masih muda).

Waktu pemberian pupuk

Cara pemupukan padi yang benar ternyata juga memperhatikan waktu pemberian pupuk. Anda tidak bisa sembarangan memberikan pupuk. Menyebarkan pupuk pada waktu yang salah bisa menyebabkan pupuk tidak terserap dengan baik dan tanaman padi pun tidak mendapatkan nutrisi yang diperlukan. Kapan waktu yang tepat untuk memberikan pupuk? Waktu yang paling baik untuk memberikan pupuk adalah di pagi hari mulai pukul 8 hingga 10 pagi. Pada rentang waktu tersebut embun sudah meninggalkan tanaman dan sinar matahari juga belum terlalu terik. Anda juga bisa memberikan pupuk di sore hari (mulai pukul 16 hingga 17). Hindari memberikan pupuk di waktu hujan atau mendung karena berpotensi menghilangkan pupuk.

Setiap tempat memiliki kebutuhan pupuk yang berbeda

Anda mungkin pernah mendapat rekomendasi cara pemupukan padi dari seorang rekan di daerah lain. Cara tersebut berhasil dan bisa meningkatkan hasil panennya. Anda tentu akan sangat tertarik untuk mencoba cara pemupukan padi tersebut. Namun tunggu dulu, belum tentu cara tersebut akan berhasil untuk sawah dan tanaman padi Anda. Mengapa?

Hal ini dikarenakan setiap tempat memiliki kebutuhan pupuk yang berbeda. Daerah yang subur jelas akan membutuhkan pupuk lebih sedikit dibandingkan dengan daerah yang kering. Kandungan zat hara pada tanah yang subur tentu lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tanah yang kering. Untuk itu, sebaiknya Anda benar-benar memahami seperti apa kondisi sawah atau lahan yang dijadikan tempat menanam padi.

Jangan terlalu cepat dan jangan terlambat

Selain memperhatikan kondisi tanah, Anda juga harus mengetahui kapan tanaman membutuhkan nutrisi dari pupuk. Jangan sampai terlalu cepat atau bahkan terlambat memberikan pupuk pada tanaman padi. Hal ini justru akan membuat hasil panen menjadi kurang optimal. Sebagai contoh, Anda sebaiknya memberikan pupuk N saat tanaman masuk usia 40 hari (saat mulai membentuk malai atau gabah). Jangan berikan pupuk sebelum padi masuk usia tersebut karena hanya akan membuat pembentukan malai kurang baik. Begitu halnya jika Anda terlambat memberikan pupuk, padi tidak akan memberi hasil panen yang optimal.

Budidaya Padi Gogo



TEKNIK BUDIDAYA

A. Pemilihan Varietas

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan varietas padi gogo untuk diusahakan di suatu daerah antara lain adalah :

1. Kesesuaiannya terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian tempat, iklim),
2. Umur tanaman yang erat kaitannya dengan curah hujan yang ada dan pola tanam,
3. Ketahanan terhadap hama dan penyakit,
4. Produktivitas.

Sedangkan syarat benih yang baik:
1. Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang.
2. Warna gabah sesuai aslinya dan cerah.
3. Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya.
4. Daya perkecambahan >80%.

Selengkapnya dapat didownload disini

PTT Padi Sawah


PENDAHULUAN

PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah merupakan sebuah inovasi untuk menunjang peningkatan produksi padi. Hal ini dilatarbelakangi karena beras sebagai bahan pangan yang berasal dari padi merupakan bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu sebagai bahan pangan pokok utama padi memegang posisi yang strategis untuk dikembangkan.

PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usaha tani padi sawah dengan menggabungkan berbagai komponen teknologi yang saling menunjang dan dengan memperhatikan penggunaan sumber daya alam secara bijak agar memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Selengkapnya dapat didownload disini