PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Dalam proses
budidaya padi tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu
Tanaman (OPT). Kerugian pada tanaman padi akibat serangan hama bisa mencapai 37
% bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan
gagal panen (puso).
Pengendalian
OPT tikus pada tanaman padi sawah, bertujuan untuk mempertahankan produksi
pertanian padi sawah agar produksi tetap optimal. Pengendalian hama tikus
adalah usaha-usaha manusia untuk menekan populasi hama tikus sampai dibawah
ambang batas yang merugikan secara ekonomi.
Pengendalian
hama tikus dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT),
yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian,
sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat
kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang
berkelanjutan diperlukan cara pengendalian yang tepat
Hama tikus
memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan hama yang lain :
1. Mempunyai mobilitas yang tinggi
2. Mempunyai kemampuan merusak tanaman padi yang besar dalam waktu relative singkat
3. Tidak mudah percaya pada benda-benda yang tidak bisa mereka kenal
4. Cerdik dalam menaggapi sesuatu.
Jenis-jenis
tikus
Tikus
merupakan binatang mengerat yang sering menimbulkan kerusakan baik dirumah,
digudang diladang maupun disawah bahkan ada jenis tikus yang merusak pada
tanaman di pohon.
Berdasarkan habitat tempat hidupnya tikus dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
1. Tikus sawah : ekor lebih panjang dari pada tubuh dan kepala, jumlah putting 12, warna bulu putih keabuan, habitat disawah /ditanggul-tanggul, telapak kaki 2 oasang terpisah satu pasang tidak pada telapak kaki depan.
2. Tikus rumah : ekor sama dengan tikus rumah, jumlah putting susu 10, warna putih kehitaman, habitat ruamg tertutup di gudang/rumah, telapak kaki 3 pasang berbantl terpisah.
3. Tikus pohon : hamper sama dengan tikus rumah, jumlah putting susu 10, warna putih keabuan, habitat dipohon/lading.
Pengendalian
Hama Tikus Dengan Perangkap Bubu
Penggunaan
perangkap bubu termasuk kedalam komponen pengendalian hama tikus secara fisik
dan mekanik. Merupakan teknik pengendalian yang palong kuno yang dilakukan oleh
manusia sejak manusia mengusahakan pertanian padi sawah.
Pengendalian
fisik dan mekanik merupakan tindakan yang dilakukan dengan tujuan secara
langsung dan tidak langsung, mematikan, mengganggu aktivitas dan merubah
lingkungan sedemikian rupa sehingga lingkungan menjadi tidak sesuai bagi
kehidupan hama. Pengendalian dengan perangkap bubu aman akan kesehatan manusia
dan lingkungan karena tanpa menggunakan bahan kimia yang berbahaya.
Pengendalian
hama dengan penghalang/pagar atau barier adalah berbagai ragam factor fisik
yang dapat menghalangi atau membatasi pergerakan hyama sehingga tidak menjadi
masalah bagi petani. Cara ini menekankan aspek pencegahan terhadap hama yang
dating atau yang menyerang, macam penghalang seperti pematang yang tinggi,
lobang atau selokan jebakan, parit berisi air, pagar terbuat dari seng, atau
lembaran plastic yang dipasang keliling.
Pengendalian
dengan perangkap terhadap hama adalah mengupayakan hama bisa masuk/ tertangkap
dalam jebakan, sehingga tidak bisa keluar lagi. Macam perangkap bisa dengan
zat-zat penarik dari tumbuhan / sintetik sepertieugenol yang dipasang pada aqua
untuk menarikdan memangkap hama lalat buah, dengan lubang bubu untuk menangkap
hama tikus.
Perangkap
bubu merupakan satu cara pengendalian komponen fisik dan mekanis, tekni ini
merupakan gabungan dari penghalang Barier dan perangkap. Perangkap dibuat
sedemikian rupa meniru bubu perngakap ikan, begitu tikus masuk makan tidak bisa
keluar lagi.
Bahan
Kawat strimin
(lubang 1 cm), kawat strimin (lubang 0,5 cm), kawat besar Diameter 3-4 mm,
kawat kecil diameter 1 mm, plastic putih yang tembus cahaya 14 %, kayu reng
ukuran 2×3 cm tinggi 1 meter.
Cara
membuatnya
1. Kawat besar 3-4 mm dibuat kerangka panjang 40 cm lebat dan tinggi 25 cm.2. Kawat Strimin lubang 1 cm di bentuk kotak sesuai dengan kerangka pada langkah ke 13. Strimin lubang 0,5 cm dibuat selongsong dengan ukuran disesuaikan dengan lubang pada liang tikus pada bagian ujung mengerucut panjang 25 cm4. Selongsong pada langkah ke 3 dipasang pada salah satu sisi yang ukuranya 25 cm dengan bagian ujung diposisikan pada tengah-tengah kotak strimin5. Semua pertemuan kawat kerangka dengan kawat strimin diikat dengan kawat strimin diameter 1 mm6. Dibuat jendela pada salah satu sisi untuk mengeluarkan tikus yang tertangkap.
Cara memasang
perangkap bubu :
1. Pemasagan pagar barier dari plastic degan menggunakan tiang dari kayu reng
2. Bentangkan plastic gara hasilnya lebih tegak, maka dibuat lebar / tinggi 70 cm diatas tanah dan dibenamkan 25 cm jarak antara tiang 2 meter yang ditancapkan pada tanah
3. Setelah plastic terpasang mengelilingi petakan, plastic tersebut diberi lubang yang disamakan dengan lubang selongsong bubu dan dipilih tempat dimana tikusss sering lewat
4. Bubu di pasag pada bentangan plastic yang telah di lubangi jarak antar bubu 20 meter dan bubu diletakan pada bagian dalam pagar plastic
5. Diharapkan tikus yang akan masuk kepetakan dapat tertangkap dan juga dipasang pada bagian luar diharapkan apabila tikus yang mau keluar bisa tertangklap pula.
Cara pengefektifkan perangkap bubu :
1. Perangkap bubu dipasang poada tempat dimana tikus sering lewat
2. Dilakukan pengamatan setiap pagi hari
3. Lakukan pengecekan dilahan karena perangkapbisa bergeser
4. Bahan pembuat perangkap harus dipilih bahan yang kuat
5. Pemasangan perangkap harus seawall mungkin
6. Dilaksanakan secara luas dan seimbang
7. Dikombinasikan dengan pengendalian hama yang lain dalam rangka PHT.