~~~ Selamat Datang di Website Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tanjungsari Sumedang, Semoga Website Ini Bermanfaat ~~~ Sumedang SIMPATI (Sejahtera, Agamis, Maju, Profesional, Kreatif) ~~~ Sumedang MELESAT (Melayani Lebih Berkualitas dan Cepat) ~~~ Peran Kostratani : 1. Pusat Data dan Informasi, 2. Pusat Gerakan Pembangunan Pertanian, 3. Pusat Pembelajaran, 4. Pusat Jejaring Kemitraan, 5. Pusat Konsultasi Agribisnis ~~~ Core Value ASN BerAKHLAK (Berorientasi Palayanan, Akuntabel, Kompeten, Hamonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif)~~~Selamat Hari Raya Idul Fitri 1424 H~~~

PENILAIAN BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) BERPRESTASI

Kegiatan Presentasi dalam rangka penilaian BPP berprestasi di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat

LABORATORIUM LAPANG PENYULUH

Sarana bagi para penyuluh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan teknologi pertanian yang akan disuluhkan pada petani binaan

KONSEP PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN P2L

P2l bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan pangan dan pendapatan keluarga

PERAN KOSTRATANI

Lima peran Kostratani dalam Pembangunan Pertanian

SEKOLAH LAPANGAN (SL) IPDMIP

Kegiatan Sekolah Lapangan (SL) IPDMIP Padi Sawah Di Kelompok Tani Medal Harapan Desa Kadakajaya Kecamatan Tanjungsari

PEKARANGAN PANGAN LESTARI (P2L) KWT HIKMATUSSALAM

Kegiatan Pengelolaan Lahan Demplot kegiatan P2L KWT Hikmatussalam Desa Kadakajaya

ADAPTASI VUB KEGIATAN SEKOLAH LAPANG IPDMIP

Penggunaan benih padi varietas Mekongga pada kegiatan Laboratorium Lapang (LL) SL IPDMIP Padi sawah di Kecamatan Tanjungsari

SOSIALISASI KARTU TANI

Kegiatan sosialisasi penggunaan kartu tani pupuk bersubsidi tingkat Kecamatan Tanjungsari

DEMPLOT BUDIDAYA TANAMAN PORANG

Kegiatan demplot usahatani tanaman porang di Kelompok Tani Mekar Mukti Desa Kadakajaya

DEMPLOT BUDIDAYA PADI HITAM

Kegiatan demplot usahatani padi hitam di Kelompok Tani Bibilitik 2 Desa Kutamandiri

PERAN PENYULUH DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUKIKASI (TIK)

Tuntutan peran penyuluh di era Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) yang semakin maju

SOSIALISASI PEMBENTUKAN KORPORASI PETANI

Kegiatan sosialisasi dalam rangka pembentukan korporasi petani ubi jalar se Kecamatan Tanjungsari

SUMEDANG SIMPATI

Sumedang yang Sejahtera Masyarakatnya, Agamis Ahlaqnya, Maju Daerahnya, Profesional Aparatnya dan Kreatif Ekonominya

Mengenal Apa itu Corporate Farming (Korporasi Petani)

Pada umumnya permasalahan yang dihadapi petani yaitu berkaitan dengan lemahnya permodalan, sehingga berdampak pada tingkat penggunaan saprodi rendah, terjadi inefisien skala usaha karena umumnya lahan yang dimiliki petani sempit, dan karena terdesak masalah keuangan posisi tawar-menawar ketika panen lemah.

Tidak hanya masalah internal, petani juga memiliki masalah eksternal diantaranya yaitu kurangnya ketersediaan faktor pendukung seperti infrastruktur, lembaga ekonomi pedesaan, intensitas penyuluhan, dan kebijakan pemerintah yang sebenarnya sangat diperlukan guna mendorong usahatani dan meningkatkan akses petani. Berdasarkan permasalahan yang demikian, maka dibentuk corporate farming sebagai upaya untuk mereduksi kelemahan maupun permasalahan yang dihadapi petani.

Dalam Permentan No 18 tahun 2018 korporasi Petani adalah “Kelembagaan Ekonomi Petani berbadan hukum berbentuk koperasi atau badan hukum lain dengan sebagian besar kepemilikan modal dimiliki oleh petani”. Tujuan corporate farming adalah mewujudkan suatu usaha pertanian yang mandiri, berdaya saing dan berkesinambungan melalui pengelolaan lahan secara korporasi dengan memanfaatkan peluang sumberdaya dan kelembagaan masyarakat yang ada secara optimal.

Pihak yang dilibatkan dalam Corporate Farming adalah petani, swasta, pemerintah dan mahasiswa. Petani akan bertindak sebagai anggota sekaligus pengelola yang harus aktif dalam mengelola perencanaan on-farm dan off-farm.

Menurut Setiawan (2008) menyatakan bahwa Ciri pokok dari corporate farming adalah sebagai berikut :

  1. Terdiri dari sekelompok petani sehamparan yang mempercayai pengelolaan lahannya kepada suatu lembaga agribisnis dengan perjanjian tertentu, dimana petani bertindak sebagai pemegang saham sesuai dengan luas lahan kepemilikannya.
  2. Corporate farming dibentuk melalui musyawarah antar para anggotanya dengan memperhatikan sosial dan budaya setempat.
  3. Corporate farming dipimpin oleh manajer professional yang dipilih oleh petani serta dikelola secara transparan dan demokratis sesuai dengan kaidah bisnis komersial.
  4. Corporate farming mensyaratkan skala usaha optimal, sesuai dengan kondisi dan kapasitas sumberdaya setempat, potensi dan kapasitas pengembangan agroindustri dan pemasaran, dan ketersediaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, serta kemampuan teknis pengelolaan dalam satu manajemen.
  5. Cakupan kegiatan corporate farming tetap bertumpu pada komoditas unggulan di wilayahnya, dan memperhatikan peluang pengembangan dan diversifikasi, baik secara vertikal maupun horizontal.

Yuk Manfaatkan Pekarangan Rumah

 Pekarangan adalah sebidang tanah darat yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal yang jelas batasnya, maka pekarangan merupakan lahan yang mudah diusahakan oleh seluruh anggota keluarga dengan memanfaatkan waktu luang yang tersedia. Pekarangan harus dimanfaatkan, bisa untuk menambah estetika rumah dan bisa juga sebagai penambah penghasilan keluarga. Berbagai hasil akan didapat jika pekarangan dimanfaatkan secara optimal. Dengan sentuhan ide bisnis yang tepat bukan mustahil pekarangan yang sebelumnya dibiarkan tidak terurus mampu mengurangi pengeluaran dan menambah penghasilan untuk perekonomian keluarga.

Pemanfaatan pekarangan yang baik dapat mendatangkan berbagai manfaat antara lain:

  1. Sumber pangan, sandang dan papan penghuni rumah
  2. Sumber plasma nutfah dan ragam jenis biologi
  3. Lingkungan hidup bagi berbagai jenis satwa
  4. Pengendali iklim sekitar rumah dan tempat untuk kenyamanan
  5. Penyerap karbondioksida dan penghasil oksigen
  6. Tempat resapan air hujan dan air limbah keluarga ke dalam tanah
  7. Melindungi tanah dari kerusakan erosi
  8. Tempat pendidikan bagi anggota keluarga

 

Terdapat berbagai cara untuk memanfaatkan perkarangan dengan optimal tanpa membutuhkan modal yang besar. Tetapi harus bisa menganalisa terlebih dahulu bagaimana kondisi pekarangan yang dimiliki agar cara pemanfaatannya sesuai dan tidak menimbulkan dampak yang merugikan. Pekarangan merupakan lahan di sekitar rumah, karena itu pemanfaatan pekarangan bukan hanya mempertimbangkan hasil, tapi juga perlu mempertimbangkan aspek keindahan. Sebagai acuan, penataan pekarangan dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Halaman depan : tanaman hias, pohon buah, tempat bermain anak, bangku taman, tempat menjemur hasil pertanian
  2. Halaman samping : tempat jemur pakaian, pohon penghasil kayu bakar, bedeng tanaman pangan, tanaman obat, kolam ikan, sumur dan kamar mandi
  3. Halaman belakang : bedeng tanaman sayuran, tanaman bumbu, kandang ternak, tanaman industri

 

Pekarangan adalah lahan terbuka yang terdapat di sekitar rumah tinggal. Lahan ini jika dipelihara dengan baik akan memberikan lingkungan yang menarik nyaman dan sehat serta menyenangkan sehingga membuat kita betah tinggal di rumah. Pekarangan rumah kita dapat kita manfaatkan sesuai dengan selera dan keinginan kita. Misalnya dengan menanam tanaman produktif seperti tanaman hias, buah, sayuran, rempah-rempah dan obat-obatan. Dengan menanam tanaman produktif di pekarangan akan memberi keuntungan ganda, salah satunya adalah kepuasan jasmani dan rohani. 

Jika dikelola dengan baik pekarangan rumah dapat memberikan manfaat bagi kehidupan keluarga seperti : tempat bermain, tempat rekreasi, sumber pangan dan juga sebagai sumber pendapatan. Pemanfaatan lahan pekarangan baik di daerah pedesaan maupun perkotaan bisa mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal yang dimiliki masing-masing daerah.

Manfaat pekarangan rumah untuk keluarga antara lain :

  1. Pemenuhan gizi keluarga : ada beberapa tanaman, ternak dan ikan yang dapat dipelihara di pekarangan dan menghasilkan makanan yang dibutuhkan keluarga.
  2. Seperti umbi-umbian sebagai sumber vitamin, sedangkan ternak dan ikan sebagai sumber protein dan lemak.
  3. Sebagai lumbung ternak : hasil dari usaha pekarangan dapat diambil sewaktu-waktu dan tidak ada musim pacekliknya.
  4. Apotik hidup : pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman obat yang berkhasiat, jika anggota keluarga sewaktu-waktu sakit dapat ditanggulangi sementara dengan obat yang ada di pekarangan.
  5. Menambah penghasilan : pekarangan yang dikelola dengan baik, hasilnya dapat dijual sebagai sumber pendapatan keluarga karena banyak komoditas yang tidak membutuhkan lahan yang luas untuk membsudidayakannya.
  6. Menghasilkan bahan bangunan : jenis tanaman pohon seperti bambu, kelapa, nangka dan tanaman lainnya yang ditanam di pekarangan dapat dijadikan bahan bangunan dan kerajinan rumah tangga.
  7. Sebagai tempat rekreasi keluarga : pekarangan yang ditata dan dirawat secara teratur akan memberikan keindahan dan rasa tentram bagi orang yang melihatnya.

 

Penumbuhan Kelembagaan Ekonomi Petani

Kelembagaan petani adalah lembaga yang ditunbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani, terdiri dari kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), dan asosiasi komoditas pertanian. Kelembagaan ekonomi petani adalah lembaaga yang melaksanakan kegiatan usaha tani yang dibentuk dari, oleh, dan untuk petani guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha, baik berbadan hukum maupun yang belum berbadan hukum, terdiri dari KUB (kelompok usaha bersama), LKMA, UPJA Alsintan, Koperasi, BUMP, dan perseroan terbatas (PT).

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menumbuhkan kelembagaan petani menjadi kelembagaan ekonomi petani (KEP) adalah sebagai berikut:
1.Identifikasi kelembagaan petani (poktan/gapoktan/UPJA) sebagai calon KEP.
2.Peningkatan kemampuan kelembagaan petani dalam menyusun rencana partisipatif agribisnis, terutama pelaporan, melalui rembug tani
3.Pembelajaran peningkatan kapasitas kelembagaan petani
4.Pendampingan dan pengawalan aktif dari penyuluh di BPP, profesional, dan perguruan tinggi.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengembangkan kelembagaan petani menjadi kelembagaan ekonomi petani (KEP) adalah sebagai berikut: 
1.Identifikasi KEP yang telah tumbuh
2.Pendampingan dan pengawalan aktif dari penyuluh di BPP, profesional, dan perguruan tinggi
3.Pembelajaran dalam upaya pengembangan kualitas usaha, antara lain penyusunan rencana bisnis, diversifikasi produk, perbaikan pasca panen dan pengolahan hasil, dan lain-lain.

Pola pengembangan KEP berbasis agribisnis adalah sebagai berikut: 
1.Satu KEP melayani satu kawasan komoditas yang memenuhi skala ekonomi dengan luas 1600—3200 hektar, dibina oleh minimal 8 penyuluh dan dikawal oleh BPP, praktisi/profesional, dan instansi terkait.
2. Layanan yang diberikan oleh KEP berupa sarana dan prasarana, pemasaran dan pengolahan hasil.
3. KEP dimitrakan dengan rantai pasok dan rantai nilai hulu—hilir.

Kriteria kelembagaan petani yang akan ditumbuhkan menjadi KEP adalah sebagai berikut:
1.Telah melakukan kegiatan usaha kelompok yang berorientasi pasar
2.Struktur kelembagaan (poktan/gapoktan) telah memiliki pengurus yang melakukan kegiatan usaha atau unit agribisnis
3.Memiliki perencanaan usaha yang disusun secara partisipatif dalam kurun waktu usaha tertentu
4.Memiliki pencatatan dan pembukuan usaha
5.Telah membangun jejaring dalam pengembangan usaha dengan kelembagaan petani lain
6.Telah membangun kemitraan dengan pengusaha atau kelembagaan ekonomi lainnya
6.Membutuhkan dukungan aspek legal formal untuk memperkuat pengembangan usaha.

Persiapan penumbuhan/pengembangan kelembagaan petani menjadi KEP adalah sebagai berikut:
1.Penyuluh mengidentifikasi kelembagaan petani yang berpotensi menjadi KEP dan yang memenuhi syarat diajukan oleh Kepala BPP kecamatan ke Dinas kabupaten/kota yang menangani penyuluhan.
2.Daftar kelembagaan petani yang memenuhi syarat menjadi KEP dimasukkan sebagai bahan penyusunan programa penyuluhan kecamatan dan kabupaten untuk mendapatkan dukungan dana.
3.Setelah masuk programa penyuluhan pertanian, maka penumbuhan/pengembangan KEP menjadi rencana kerja tahunan penyuluh.
4.Mengadakan bimtek penumbuhan dan pengembangan KEP bagi penyuluh pertanian.
5.Sosialisasi penumbuhan/pengembangan KEP oleh penyuluh pertanian kepada poktan/gapoktan yang potensial.
6.Rembug tani untuk menyepakati pembentukan KEP dan bentuk KEP yang dipilih.
7.Pendampingan oleh penyuluh pertanian bersama pihak terkait Dinas Koperasi dan Perdagangan, petugas teknis lingkup pertanian) sesuai dengan produk yang dikembangkan oleh kelembagaan petani. 8.Pendampingan penyuluh pertanian sebagai bagian dari kunjungan penyuluh ke poktan/gapoktan yang sudah terjadwal.
9.Verifikasi dan validasi kelayakan kelembagaan petani menjadi KEP dilakukan oleh Dinas kabupaten/kota yang menangani penyuluhan bekerjasama dengan instansi terkait.
10.Menyiapkan dokumen kelengkapan pembentukan KEP.

Setelah KEP terbentuk, dibentuk fasilitasi dan pengawalan/pendampingan dari penyuluh dan pihak terkait dalam hal:
1.Penguatan kapasitas manajerial usaha KEP melalui perencanaan bisnis, pengembangan produk, perencanaan stok/dalam ketersediaan dan pemasaran, serta kemampuan mengeloal keuangan, akuntansi dan perpajakan.
2.Pengembangan jejaring dan kemitraan melalui peningkatan modal dan pencarian peluang pasar.
3.Pengembangan pelayanan informasi, magang, dan pelatihan terutama KEP yang telah menunjukkan keberhasilan dalam kegiatan usaha taninya.

Pupuk Hayati Cair (PHC)

Pupuk hayati (biofertilizer) seringkali dianggap sebagai pupuk organik. Kekeliruan ini sepertinya sepele, namun bisa berakibat fatal jika terdapat kesalahan dalam menggunakannya. Pada kesempatan ini Alam Tani akan membahas mengenai pengertian dan fungsinya.

Permentan No.2 tahun 2006, menggolongkan pupuk hayati kedalam pembenah tanah, bukan pupuk organik. Pembenah tanah itu sendiri bisa organik ataupun non organik. Pupuk hayati termasuk dalam pembenah tanah organik. Dalam peraturan tersebut pupuk organik didefinisikan sebagai sekumpulan material organik yang terdiri dari zat hara (nutrisi) bagi tanaman, di dalamnya bisa mengandung organisme hidup atau pun tidak. Sedangkan pupuk hayati merupakan sekumpulan organisme hidup yang aktivitasnya bisa memperbaiki kesuburan tanah.

Dalam prakteknya bisa saja satu pupuk organik mengandung agen hayati ataupun sebaliknya. Meskipun begitu, tidak semua pupuk organik yang mengandung mikroorganisme hidup dikatakan sebagai pupuk hayati, kecuali kondisi mikroorganismenya memenuhi syarat kualitas tertentu.

Fungsi pupuk hayati

Terdapat dua peran utama pupuk hayati dalam budidaya tanaman, yakni sebagai pembangkit kehidupan tanah (soil regenerator), penyubur tanah kemudian tanah dan penyedia nutrisi tanaman (Feeding the soil that feed the plant). Mikroorganisme yang terdapat dalam pupuk bekerja dengan cara:

Penambat zat hara yang berguna bagi tanaman. Beberapa mikroorganisme berfungsi sebagai penambat N, tanpa bantuan mikroorganisme tanaman tidak bisa menyerap nitrogen dari udara. Beberapa berperan sebagai pelarut fosfat dan penambat kalium

Aktivitas mikroorganisme membantu memperbaiki kondisi tanah baik secara fisik, kimia maupun biologi.

Menguraikan sisa-sisa zat organik untuk dijadikan nutrisi tanaman.

Mengeluarkan zat pengatur tumbuh yang diperlukan tanaman sperti beberapa jenis hormon tumbuh.

Menekan pertumbuhan organisme parasit tanaman. Pertumbuhan mikroorganisme baik akan berkompetisi dengan organisme patogen, sehingga kemungkinan tumbuh dan berkembangnya organisme patogen semakin kecil.

Mengetahui kualitas pupuk

Beradasarkan Kementerian Pertanian, kualitas pupuk hayati bisa dilihat dari parameter berikut:

Jumlah populasi mikroorganisme, jumlah mikroorganisme hidup yang terdapat dalam pupuk harus terukur. Bila jumlahnya kurang maka aktivitas mikroorganisme tersebut tidak akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman.

Efektifitas mikroorganisme, tidak semua mikroorganisme memberikan pengaruh positif pada tanaman. Bahkan beberapa diantaranya bisa menjadi parasit. Hanya mikroorganisme tertentu yang bisa dijadikan sebagai pupuk hayati. Sebagai contoh, jenis Rhizobium yang bisa menambat nitrogen, atau Aspergillus niger sebagai pelarut fosfat.

Bahan pembawa, fungsinya sebagai media tempat mikroorganisme tersebut hidup. Bahan pembawa harus memungkinkan organisme tetap hidup dan tumbuh selama proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pupuk siap digunakan.

Masa kadaluarsa, sebagai mana mahluk hidup lainnya mikroorganisme tersebut memiliki siklus hidup. Apabila mikroorganisme dalam pupuk telah mati, pupuk tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pupuk hayati. Untuk memperpanjang siklus hidup tersebut, produsen pupuk biasanya mengemas mikroorganisme tersebut dalam keadaan dorman. Sehingga perlu aktivasi kembali sebelum pupuk diaplikasikan pada tanaman. Pupuk yang benar seharusnya mencantumkan tanggal kadaluarsa dalam kemasannya.

Jenis-jenis pupuk hayati

Dewasa ini dikenal dua jenis pupuk hayati dilihat dari kandungan mikroorganismenya, yaitu pupuk dengan mikroorganisme tunggal dan mikroorganisme majemuk. Pupuk dengan mikroorganisme tunggal hanya mengandung satu jenis mikroba yang memiliki satu fungsi, semisal mikroba dari jenis Rhizobium sebagai penambat nitrogen. Sedangkan pupuk dengan mikroorganisme majemuk biasanya memiliki lebih dari tiga jenis mikroba.

Di Indonesia pupuk hayati yang beredar dipasaran kecenderungannya dari jenis mikroorganisme majemuk. Sedangkan di negara-negara maju lebih banyak jenis tunggal. Pupuk yang beredar di pasaran biasanya berbentuk cair dan padat (tepung). Merek-merek yang terkenal diantaranya EM4, Sumber Subur dan M-Bio. Sedangkan yang berbentuk padat antara lain Evagrow dan Solagri.

Penggunaan pupuk hayati

Di pasaran, biasanya pupuk hayati dijual lebih tinggi dari pupuk organik biasa. Bahkan jenis pupuk yang berupa biang atau disebut juga agen hayati dijual dengan harga yang sangat mahal. Karena pupuk tersebut diperuntukkan sebagai biang, sehingga petani bisa memperbanyak sendiri.

Pupuk hayati dapat diaplikasikan pada tanah, daun, akar, batang, bunga atau benih. Pupuk ini biasanya efektif diaplikasikan pada tanah yang memiliki kandungan organik tinggi. Mikroorganisme yang terdapat didalamnya membutuhkan kondisi yang baik untuk tumbuh dan berkembang.

Pada tanah yang miskin kandungan organik, mikroorganisme yang terdapat dalam pupuk hayati bisa saja mati dan tidak berkembang. Penggunaannya pada tanah yang miskin kandungan organik sebaiknya dikombinasikan dengan penggunaan pupuk kompos, pupuk hijau, pupuk kandang atau pupuk organik lainnya.

Kenali Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Ternak

 Pengertian Penyakit Mulut dan Kuku

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit hewan yang serius dan sangat menular. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyerang semua hewan berkuku belah, termasuk sapi, domba, kambing, unta, rusa dan babi. Namun, PMK tidak memengaruhi kuda, zebra, anjing dan kucing.

Perlu diingat, penyakit mulut dan kuku adalah penyakit hewan dan merupakan penyakit yang berbeda dari penyakit tangan, kaki dan mulut yang umum terjadi pada anak kecil. Meskipun bukanlah ancaman pada kesehatan masyarakat atau keamanan pangan, PMK menjadi perhatian banyak negara di dunia karena bisa menyebar dengan cepat dan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. 

Pasalnya, penyakit ini bisa sangat melemahkan hewan yang akhirnya akan mengakibatkan hilangnya produksi daging dan susu. Pada hewan muda, PMK bisa berakibat fatal. Itulah mengapa PMK menjadi salah satu penyakit hewan yang paling ditakuti pemilik ternak.

Penyebab Penyakit Mulut dan Kuku

PMK disebabkan oleh virus bernama Aphthovirus yang sangat menular. Virus tersebut bisa menyebar melalui cairan dari lepuh dan oleh air liur hewan yang terinfeksi. Hewan bisa terinfeksi bila melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi, bagian hewan yang terkontaminasi atau benda yang terkontaminasi seperti peralatan peternakan. 

Virus PMK bisa bertahan dalam pakan, air dan di permukaan hingga satu bulan, tergantung pada suhu dan kondisi tanah. Virus tersebut juga bisa bertahan dalam jaringan hidup dan dalam napas, air liur, urin, dan ekskresi lain dari hewan yang terinfeksi.  

Dalam kondisi tertentu, angin juga bisa menyebarkan virus. Inseminasi buatan dan biologis yang terkontaminasi, seperti hormon atau vaksin, juga bisa menyebabkan penyebaran virus. Hewan yang tidak sakit karena virus, seperti anjing dan kuda, bisa bersentuhan dengan virus dan membawanya ke hewan yang rentan atau mencemari fasilitas atau peralatan ternak. Orang yang memakai pakaian atau alas kaki yang terkontaminasi atau yang menggunakan peralatan yang terkontaminasi juga bisa menularkan virus ke hewan lain.

Ada 7 jenis yang diketahui (A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1) dan lebih dari 60 subtipe virus PMK. Kekebalan terhadap satu jenis tidak melindungi hewan terhadap jenis atau subtipe lain.

Faktor Risiko Penyakit Mulut dan Kuku

PMK bisa menyebar dengan cepat dari satu hewan ke hewan lain, terutama di iklim yang sejuk dan lembab dan/atau ketika hewan dikandangkan atau ditempatkan berdekatan. 

Gejala Penyakit Mulut dan Kuku 

Masa inkubasi virus PMK pada hewan yang rentan bisa berkisar antara dua hingga delapan hari, tetapi virus bisa bertahan hingga 21 hari pasca infeksi. Hewan yang terinfeksi dapat menyebarkan virus satu sampai dua hari sebelum timbulnya gejala klinis, dan selama tujuh sampai sepuluh hari setelah munculnya gejala klinis.

Menurut Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE), tingkat keparahan tanda-tanda klinis atau gejalanya akan tergantung pada jenis virus, berapa banyak paparannya, usia dan spesies hewan dan kekebalan inang.

Sapi, babi, domba, kerbau, rusa, unta dan kambing yang terinfeksi PMK awalnya mungkin menunjukkan demam, mengeluarkan air liur yang banyak dan enggan bergerak. Penyakit virus ini juga menyebabkan lepuh berisi cairan (vesikel) terbentuk di bibir, lidah, langit-langit mulut, kaki dan puting hewan yang terinfeksi. Lepuh ini kemudian pecah dan meninggalkan borok yang menyakitkan dan membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk sembuh.

Selain itu, gejala PMK yang juga umum terjadi pada hewan, antara lain tidak nafsu makan, penurunan berat badan, berkurangnya produksi susu akibat mastitis, bibir bergetar dan mulut berbusa, pincang.

Diagnosis Penyakit Mulut dan Kuku

Dokter hewan biasanya sudah bisa mencurigai penyakit ini berdasarkan gejala klinis yang ditunjukkan hewan. Namun, PMK sering kali tidak bisa dibedakan dari penyakit hewan lainnya. Oleh karena itu, tes laboratorium seringkali dibutuhkan untuk mendiagnosis penyakit mulut dan kaki pada hewan. Keberadaan virus PMK bisa dibuktikan dengan isolasi kultur sel, uji fiksasi komplemen, ELISA atau metode polymerase chain reaction (PCR) yang lebih baru.

Pengobatan Penyakit Mulut dan Kuku

Tidak ada pengobatan yang bisa diberikan untuk mengatasi penyakit mulut dan kuku. Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, PMK biasanya bisa sembuh dengan sendirinya dengan kekuatan imunitas tubuh hewan.

Komplikasi Penyakit Mulut dan Kuku

Penyakit mulut dan kuku bisa menyebabkan kelemahan pada hewan yang terinfeksi, bahkan setelah sembuh. Sementara itu, hewan yang terkena dampak kronis dilaporkan mengalami penurunan produksi susu secara keseluruhan sebesar 80 persen. Akibatnya, kesehatan anak sapi muda, domba, dan anak babi bisa terganggu oleh kekurangan susu jika induk mereka terinfeksi.

Kematian juga bisa terjadi sebelum timbulnya lepuh akibat miokarditis multifokal. Myositis (peradangan dan pembengkakan pada otot) juga bisa terjadi.

Pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku

Penyakit mulut dan kuku adalah salah satu infeksi hewan yang paling sulit dikendalikan. Pasalnya, penyakit ini terjadi di banyak bagian dunia, jadi selalu ada kemungkinan virus masuk secara tidak sengaja ke negara yang tidak terkena. Pembatasan ekspor sering dilakukan pada negara-negara dengan wabah yang diketahui.

Wabah PMK biasanya dikendalikan oleh karantina dan pembatasan pergerakan, pemusnahan hewan ternak yang terkena dan berkontak, dan pembersihan dan disinfeksi tempat, peralatan, dan kendaraan yang terkena dampak.

Bangkai yang terinfeksi harus dibuang dengan aman dengan pembakaran, rendering, penguburan atau teknik lainnya. Virus yang ada di dalam susu dari sapi yang terinfeksi bisa dimatikan dengan memanaskan hingga 100 °C (212 °F) selama lebih dari 20 menit. Hewan pengerat dan vektor lainnya juga bisa dibunuh untuk mencegah penyebaran virus secara mekanis.

Vaksinasi juga bisa digunakan untuk mengurangi penyebaran PMK atau melindungi hewan tertentu. Cara pencegahan ini juga digunakan di daerah endemik untuk melindungi hewan dari penyakit klinis. Namun, vaksin PMK harus sangat cocok dengan serotipe dan strain dari strain yang menginfeksi.

Teknis Budidaya Bayam Cabut


Persiapan Benih

Sayuran bayam ini dikembangkan dengan menggunakan biji. Biji bayam ini yang dapat dijadikan sebagai benih harus cukup tua kurang lebih 3 bulan. Benih yang muda memiliki daya simpan yang tidak lama serta tingkat perkecambahannya sangat rendah. Benih bayam yang tua ini bisa disimpan hingga selama satu tahun. Benih bayam ini tidak mempunyai masa dormasi serta kebutuhan benih ialah sebanyak 5 sampai dengan 10 kg hektar atau 0,5 sampai dengan 1 gram per meter perseginya. Varietas yang dianjurkan untuk pembudidayaan bayam ini ialah Giti Hijau, Kakap Hijau, Giti Merah, Cimangkok serta Bangkok.


Menyiapkan lahan

Lahan dicangkul dengan kedalaman 20 sampai dengan 30 cm agar menjadi gembur. Kemudian buatlah bedengan dengan arah yang membujur yaitu dari barat ke timur supaya bisa mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan ini sebaiknya 100 cm, dengan ketinggian 30 cm serta panjang sesuai dengan kondisi lahan. Ajrak antar bedengan ialah 30 cm.


Proses pemupukan

Setelah bedengan ini diratakan, sebelum 3 hari sebelum ditanami maka berikan pupuk dasar menggunakan pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis yang digunakan adalah 20.000 kg / ha atau menggunakan pupuk kompos organik hasil dari fermentasi atau kotoran ayam yang sudah difermentasikan dengan penggunaan dosisnya ialah 4 kg / meter persegi. Sebagai starter tambahan Urea 105 kh per ha atau 15 gram per meter persegi aduk menggunakan air serta siramkan pada tanaman pada saat sore hari setelah 10 hari penaburan benih, apabila perlu maka berikanlah pupuk cair 3 liter / ha atau 0,3 ml per meter persegi pada usia 2 minggu setelah penaburan benih bayam ini.


Penaburan atau penanaman benih bayam

Penanaman atau penaburan benih ini bisa dilakukan dengan 3 cara yaitu :
Ditebar langsung diatas bedengan, caranya biji dicampurkan dengan pupuk kandang yang sudah dihancurkan serta ditebarkan dengan merata pada atas bedengan.
Ditebar pada barisan atau larikan dengan jarak 10 sampai dengan 15 cm, lalu ditutup dengan menggunakan lapisan tanah.
Disemai apabila telah tumbuh sekitar 10 hari, bibit bayam ini dibumbun serta dipelihara selama kurang lebih 3 minggu, kemudian dipindahkan ke bedengan dengan jarak tanamnya 50 cm x 30 cm. Ini dilakukan biasanya pada bayam jenis petik.


Pemeliharaan Bayam

Bayam yang jarang sekali terkena penyakit yang ditularkan dari dalam tanah ini ialah bayam cabut. Bayam ini bisa berproduksi dengan sangat baik apabila kesuburan pada tanah ini selalu dipertahankan seperti dengan cara pemupukan organik yang teratur serta air yang cukup. Untuk tanaman muda hingga satu minggu setelah tanam memerlukan air hingga 4 1/m2/hari serta menjelang dewasa tanaman ini memerlukan air sekitar 8 1/m2/hari.


Pengendalian Organisme Penggangu

Jenis hama yang biasa menyerang tanaman bayam ini adalah ulta daun, penggorok daun, kutu daun serta belalang. Penyakit yang biasa dijumpai pada bayam ini ialah rebah kecambah atau dengan nama lainnya Rhizoctonia solani serta penyakit karang putih atau Albugo sp. Cara pengendalian Opt ini menggunakan pestisida yang aman serta mudah terurai misalnya pestisida biologis, pestisida piretroid sintetik atau pestisida nabati. Cara menggunakan pestisida ini haruslah benar mulai dari pemilihan jenis, volume semprot, dosis, interval, waktu aplikasi serta cara aplikasi.


Panen Bayam

Bayam cabut biasa dipanen jika tinggi tanaman ini sudah mencapai 20 cm, saat umur 3 sampai dengan 4 minggu setelah masa tanam. Tanaman bayan ini bisa dicabut sampai dengan akarnya atau dipotong pangkalnya. Untuk bayam petik biasanya bisa dipanen pada umur 1 sampai dengan 1.5 bulan dengan pemetikan yang dilakukan seminggu sekali.


Pasca Panen Bayam

Tempatkan bayam yang baru panen ini ditempat yang teduh atau dengan merendam bagian akar di air serta proses pengiriman produk harus secepat mungkin agar kesegaran bayam tetap terjaga.

Membuat Biopestisida dari Ekstrak Daun Tembakau


Pestisida hayati atau biopestisida merupakan segala jenis bahan yang berasal dari makhluk hidup seperti tanaman (disebut pestisida nabati) dan mikroorganisme (disebut pestisida hayati), yang memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangan atau mematikan hama atau mikroorganisme penyebab penyakit. Biopestisida memiliki kandungan senyawa organik yang mudah terdegradasi oleh alam. Biopestisida cocok digunakan pada tanaman untuk pencegahan sebelum terjadinya serangan hama dan penyakit. Efektivitas dari bahan nabati dan hayati biopestisida bergantung kepada jenis penyakit sasaran dan faktor lingkungan.

Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biopestisida adalah tanaman tembakau (Nicotiana tabacum L.). Daun tanaman tembakau mengandung 2-8% nikotin. Kandungan nikotin tanaman tembakau yang cenderung tinggi mampu mengusir hama dan menghambat penyaki Nikotin tembakau merupakan salah satu metabolit sekunder berjenis alkaloid yang memiliki sifat racun apabila digunakan sebagai insektisida, fungisida, akarisida, dan molusksida. Selain mengandung nikotin yang tinggi, daun tembakau juga mengandung senyawa antimikroorganisme seperti saponin, flavonoid, dan polifenol. 

Cara pembuatan biopestisida daun tembakau dimulai dengan proses penghalusan daun tembakau, lalu daun yang sudah halus dipindahkan ke dalam wadah dan diberikan air, lalu direndam di dalam air selama 6 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan ekstrak daun tembakau menggunakan saringan. Larutan biopestisida daun tembakau dimasukkan ke dalam botol semprot dan siap digunakan.

Biopestisida daun tembakau memiliki kelebihan antara lain: (1) lebih mudah terurai oleh alam sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas, (2) residu biopestisida tembakau tidak bertahan lama pada tanaman sehingga tanaman yang disemprot lebih aman untuk dikonsumsi, dan (3) dari segi ekonomi, penggunaan biopestisida memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan.

Jenis-jenis Sistem Hidroponik


Hidroponik adalah salah satu metode yang digunakan untuk menanam berbagai bentuk tanaman dengan tanpa menggunakan tanah dan hanya mengandalkan media air yang telah dicampur dengan larutan mineral dan nutrisi lainnya. Beberapa jenis nutrisi yang dipakai untuk tanaman yang ditanam secara hidroponik adalah seperti menggunakan pupuk yang berasal dari hewani atau menggunakan pupuk kimia seperti urea yang telah dilarutkan.

Dilansir dari Fresh Water Systems, inilah 8 jenis sistem hidroponik yang bisa digunakan antara lain :

1. Sistem Wick

Sistem hidroponik wick adalah salah satu metode hidroponik yang paling mudah dan sederhana untuk dilakukan. Dalam sistem wick, tanaman akan ditempatkan pada sebuah wadah yang diletakkan tepat pada sebuah tempat penyimpanan air. Wadah penyimpanan air tersebut sebelumnya sudah diberikan larutan nutrisi seperti pupuk dan penyubur tanaman. Sistem ini bisa dibuat dengan mudah hanya dengan menggunakan tali atau kain wol dan wadah yang terbuat dari plastik.

Sistem wick ini menggunakan metode yang bernama kapiler yang di mana tali atau kain akan menyerap air secara perlahan layaknya sebuah spons dan akan langsung mentransfer air dan nutrisi tersebut pada tanaman yang ditanam. Menanam tanaman hidroponik dengan menggunakan sistem wick memang membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dan membatasi jenis-jenis tanaman yang bisa ditanam. Metode ini juga cocok digabungkan dengan sistem aerasi agar tanaman bisa mendapatkan oksigen lebih banyak.

2. Sistem Deep Water Culture

Sistem hidroponik yang selanjutnya adalah sistem deep water culture. Metode ini cukup sederhana karena tanaman yang akan Anda tanam cukup dimasukkan ke dalam air aerasi. Metode ini merupakan salah satu metode hidroponik yang paling sederhana dan paling populer digunakan oleh banyak orang. Banyak yang beranggapan bahwa metode ini merupakan sistem hidroponik yang paling tidak repot untuk dilakukan.

Akar dari tanaman  akan selalu berada di bawah permukaan air sehingga akan membutuhkan sistem aerasi yang benar agar tanaman bisa tumbuh secara normal dan cepat. Pasanglah sistem aerasi pada dasar wadah dan mengalirkan udara dari mesin oksigen dengan menggunakan selang karet yang sudah dilubangi agar oksigen bisa terbagi secara merata pada seluruh tanaman.

3. Sistem Aeroponik

Sistem hidroponik yang selanjutnya adalah sistem aeroponik. Metode aeroponik ini menggunakan air yang sudah dikabutkan dan dialirkan pada akar-akar dari tanaman yang sudah disusun dengan cara sedemikian rupa. Metode penanaman ini termasuk salah satu cara yang paling sulit untuk dilakukan dan mahal tetapi tidak memerlukan tempat yang banyak. 

4. Sistem Drip

Metode hidroponik yang selanjutnya adalah sistem drip. Metode ini menggunakan sistem aerasi untuk mengalirkan air yang sebelumnya sudah diberikan nutrisi seperti pupuk dan penyubur tanaman dan akan diteteskan pada akar dan batang tanaman secara berkala. Metode ini memang cukup kompleks karena harus memastikan agar air hasil aerasi yang berlebihan terbuang dan tidak membuat tanaman menjadi busuk karena kelebihan nutrisi. Metode ini juga memungkinkan untuk menanam tanaman yang berukuran besar karena tidak memerlukan banyak tempat untuk mengaliri air pada bagian bawah dari wadahnya.

5. Metode EBB dan Flow

Metode penanaman hidroponik berikutnya adalah EBB dan Flow. Pada metode ini terdapat sebuah timer yang akan mengatur waktu untuk mengaliri air yang sudah diberikan pupuk pada tanaman dalam waktu yang sudah ditentukan. Metode ini juga menggunakan tabung untuk mengaliri air yang berlebih agar tidak merusak tanaman dan buah yang sudah tanam.

6. Metode Nutrient Film

Pada metode nurtrient film, tanaman hidroponik akan secara berkala dialirkan air yang mengandung pupuk dan nutrisi lainnya dengan menggunakan pipa di bawah tanaman yang tanam. Metode ini cukup berbeda dengan cara lainnya karena akar dari tanaman tidak akan terendam di dalam air dan hanya akan dialiri oleh air saja. Metode ini mengharuskan agar akar dari tanaman tidak menutupi aliran air dan menjadikan tanaman lain menjadi kekurangan nutrisi.

7. Metode Bubbleponic

Sesuai dengan namanya, metode ini mengandalkan gelembung udara yang dihasilkan oleh sistem aerasi agar tanaman bisa terus tumbuh dan mendapatkan oksigen dengan cukup. Metode ini juga mengharuskan agar akar dari tanaman tetap berada di dalam air dan sudah dialiri oleh nutrisi agar tanaman bisa tumbuh dengan subur

8. Sistem Fertigasi

Metode yang terakhir bisa gunakan adalah sistem fertigasi. Teknik ini mengharuskan untuk mengalirkan air yang mengandung nutrisi dan unsur hara dengan menggunakan cara irigasi. Dalam sistem ini biaya untuk melakukan pemupukan akan berkurang karena pupuk akan langsung diberikan secara bersamaan dengan penyiraman tanaman. Metode ini juga membuat menjadi lebih berhemat karena pemakaian pupuk akan menjadi berkurang karena akan diberikan pada tanaman dalam jumlah yang sedikit namun secara terus menerus.

Pengendalian Penyakit Bulai Jagung


Penyakit Bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Peningkatan suhu dan kelembaban akhir-akhir ini diperkirakan akan semakin mempercepat perkembangbiakan dan penyebaran spora bulai melalui media udara, tanah ataupun benih.


CIRI-CIRI

Ciri umum yang ditimbulkan dari serangan bulai adalah munculnya butiran putih pada daun yang merupakan spora cendawan pathogen tersebut. Penyakit ini menyerang tanaman jagung varietas rentan hama penyakit dan umur muda (1-2 Minggu Setelah Tanam = MST) maka kehilangan hasil akibat infeksi penyakit ini dapat mencapai 100% (Puso). Masa kritis tanaman jagung terserang bulai berlangsung sejak benih ditanam hingga usia 40 hari. Sejumlah daerah di Indonesia seperti Bengkayang, Kalimantan Barat, dilaporkan telah menjadi daerah endemic bulai. Upaya pencegahan yang dilakukan petani melalui perlakuan benih dengan fungisida berbahan aktif metalaksil dilaporkan tidak membawa hasil karena adanya efek resistensi atau kekebalan terhadap bahan aktif tersebut.


GEJALA

Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada daun permukaan atas dan bawah terdapat warna putih seperti tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan


PENYEBAB

Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh tiga jenis spesis yaitu Peronosclerospora maydis, P. phillipinensis dan P. Sorghi


PENGENDALIAN PENYAKIT BULAI

Penyakit bulai sangat ditakuti karena dapat menyebabkan gagal panen (puso). Oleh karena itu petani jagung harus memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit bulai. Berikut ini adalah beberapa tips dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, tentang upaya yang dapat dilakukan petani dalam rangka mengendalikan penyakit bulai sebagai berikut :

- Penggunaan varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bulai jagung

- Periode bebas tanaman jagung hal ini dikhususkan kepada daerah-daerah endemik bulai dimana jagung ditanam tidak serempak, sehingga terjadi variasi umur yang menyebabkan keberadaan bulai dilapangan selalu ada, sehingga menjadi sumber inokulum untuk pertanaman jagung berikutnya.

- Sanitasi lingkungan pertanaman jagung sangat perlu dilakukan oleh karena berbagai jenis rumput-rumputan dapat menjadi inang bulai sehingga menjadi sumber inokulum pertanaman berikutnya.

- Rotasi tanaman dengan tujuan untuk memutus ketersediaan inokulum bulai dengan menanam tanaman dari bukan sereal.

- Eradikasi tanaman yang terserang bulai.

- Penggunaan fungisida (b.a. Metalaksil) sebagai perlakuan benih (seed treatment) untuk mencegah terjadinya infeksi bulai lebih awal dengan dosis 2,5 -5,0 g/kg benih.

Kemitraan Usahatani Buncis Kenya


Salah satu fungsi Balai Panyuluhan Pertanian (BPP) Kostratani adalah sebagai Pusat Jejaring Kemitraan. Atas dasar itulah, penyuluh pertanian berkewajiban untuk dapat memfasilitasi terjalinnya kemitraan antara petani dengan pihak lain yang saling menguntungkan.

Sebagai bentuk hasil dari kegiatan fasilitasi kemitraan usaha, maka saat ini telah terjalin kemitraan usahatani di dua kelompok tani di Kecamatan Tanjungsari, tepatnya di kelompok tani Mekar Mukti Desa Kadakajaya dan kelompok Tani Simpati Mukti Desa Cijambu, yaitu kemitraan usahatani tanaman buncis Kenya. 

Buncis Kenya adalah jenis buncis tegak (tidak merambat) yang mempunyai potensi hasil cukup tinggi dengan harga jual yang menjanjikan. Buncis Kenya merupakan komoditi ekspor, juga komoditi yang dipasarkan di pasar-pasar modern (swalayan).



Kemitraan usahatani buncis Kenya oleh kelompok tani Mekar Mukti dan Simpati Mukti telah berlangsung sejak tahun 2021, dengan harga jual produk (harga kontrak) Rp. 10.000,00 per kilogram. Setiap hari permintaan buncis Kenya mencapai 200 kilogram, dan masih belum dapat terpenuhi oleh kedua kelompok tani tersebut. Hal ini menjadikan peluang usaha yang dapat dikembangkan oleh kelompok-kelompok tani yang lainnya melalui kemitraan usaha.


~~~NS~~~





Kaji Terap Budidaya Kubis Menggunakan Pupuk Organik Kreasi Penyuluh

Kegiatan Kaji Terap budidaya tanaman kubis dengan aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) hasil kreasi penyuluh pertanian Kecamatan Tanjungsari







Peran dan Transformasi Penyuluh di Era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Guna Akselerasi Regenerasi Petani








Tips Bijak Menggunakan Media Sosial


Siapa yang tidak memiliki media sosial ? Di zaman sekarang, media sosial merupakan hal yang sangat umum. Orang-orang mungkin akan merasa aneh jika tidak memiliki satu akun media sosial apapun. Fungsinya yang berawal sebagai media bersosialisasi mengalami perubahan dan peningkatan hingga bisa menjangkau aktivitas seseorang dalam banyak hal.

Saat ini, media sosial yang kita kenal banyak digunakan di Indonesia adalah Whatsapp, Line, Instagram, Facebook, dan Twitter dan juga TikTok. Semakin berkembangnya penggunaan media sosial, banyak terjadi kasus penyalahgunaan hingga perlu untuk diproses menurut hukum yang berlaku.

Media sosial yang sangat banyak di gunakan Di Indonesia, perilaku bersosial media sudah diatur dalam UU No. 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik atau sering disebut UU ITE. Beberapa hal yang diatur di antaranya mengenai pencemaran nama baik, penghinaan SARA, dan perdagangan elektronis.

Berikut tips atau langkah-langkah penggunaan media sosial dengan bijak. Yuk simak …

1. Gunakan Sesuai Kebutuhan

Media sosial hadir untuk dapat digunakan dalam berbagai hal, mulai dari hal-hal yang baik hingga hal-hal yang buruk. Seiring pesatnya perkembangan media sosial, meningkat juga kejahatan siber. Maka dari itu, adanya kontrol dari orang tua sangat-sangat dibutuhkan. 

2. Jaga Sikap dan Etika

Tidak hanya dalam kehidupan nyata saja, sikap dan etika juga perlu ditunjukkan saat menggunakan media sosial. Media sosial juga merupakan tempat bertemnuya banyak orang. Maka dari itu, bahasa sopan dan santun terhadap lawan bicara juga perlu diterapkan agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara di media sosial.

3. Ikuti Informasi Yang Bermanfaat

Berkumpulnya orang-orang dari belahan dunia yang berbeda menjadikan ladang informasi yang luas di media sosial. Informasi tersebut dapat berupa informasi yang baik sampai informasi yang kurang penting. Untuk itu, perlu filter untuk mengambil sumber informasi dari media sosial agar informasi yang didapatkan akurat, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan.

4. Jauhi Toxic Account

Toxic Account adalah akun-akun yang mengimpulsi kita untuk melakukan hal buruk, seperti boros atau marah. Jika hal itu terjadi, berhentilah untuk mengikutinya.

5. Manfaatkan Media Sosial Semaksimal Mungkin

Sebagai media yang bisa digunakan untuk berbagai hal, media sosial bisa menjadi pasar yang efektif untuk memamerkan skill, kemampuan dan kreativitas. Selain itu, opini atau pendapat juga bebas diutarakan di media sosial dengan catatan dapat dipertanggung jawabkan.

Teknis Budidaya Bawang Merah


Bawang merah (Alliumascalonicum L.) merupakan tanaman semusim (berumur pendek) yang dapat diperbanyak secara vegetatif dengan umbi dan generatif dengan biji (True Shallot Seed/TSS). Umbi mini (G1) adalah umbi berukuran kecil (berukuran 2-3 gr) yang dihasilkan sebagai produk benih hasil perbanyakan TSS. Hasil perbanyakan umbi mini yaitu umbi sebar (G2). Keunggulan menggunakan umbi mini sebagai benih diantaranya yaitu memiliki potensi produksi lebih tinggi dibandingkan dengan umbi biasa yang sudah digunakan petani secara terus-menerus dan lebih sehat karena tidak adanya akumulasi patogen tular umbi seperti bakteri, jamur, dan virus.

1. Benih

Benih yang digunakan merupakan umbi mini hasil perbanyakan dari biji/TSS dan merupakan varietas unggul. Kriteria umbi mini untuk bibit, yaitu cukup umur tanaman (70-80 hari) tergantung pada varietas yang ditanam, cukup umur simpan (2-4 bulan), padat atau kompak dan kulit umbinya tidak luka serta warnanya berkilau. Apabila benih bawang merah belum cukup umur simpan (tunas dalam benih masih sekitar 50-60%), dilakukan pemotongan ujung umbi (± 0,5 cm atau 1/3 bagian ujungnya) dengan tujuan untuk memecahkan dormansi.
  1. Kebutuhan benih sebanyak 1200 kg/ha.
  2. Benih bersih dari kulit yang kering atau kotoran.
  3. Untuk mencegah serangan penyakit layu fusarium, dilakukan perlakuan benih sebelum tanam dengan menggunakan fungisida Mankozeb (dosis 100 gr fungisida/100 kg benih dan disimpan dalam karung plastik selama 1-2 hari).
2. Persiapan Lahan
  1. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sehingga siap olah.
  2. Pada lahan bekas padi sawah, tanah diolah dan dibuat bedengan-bedengan terlebih dahulu dengan lebar (1,2-1,5 m) dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan dengan kedalaman parit 50-60 cm dan lebar parit 40-50. Bedengan mengikuti arah Timur – Barat.
  3. Pada lahan dengan pH < 5,6 dilakukan pengapuran menggunakan kaptan/dolomite sebanyak 1-1,5 ton/ha/tahun bersamaan dengan pengolahan tanah yaitu minimal 2 minggu sebelum tanam.
  4. Untuk daerah endemik orong-orong, diberikan insektisida karbofuran dengan dosis 30 kg/ha bersamaan dengan pemberian pupuk organik.
3. Penanaman

Penanaman umbi dengan cara menancapkan atau membenamkan pada bedengan sedalam 3/4 bagian umbi.

4. Pemeliharaan

a. Pemupukan
- Lahan kering/tegalan.
Pupuk dasar berupa pupuk kandang sapi (15-20 ton/ha) atau kotoran ayam (5-6 ton/ha) atau kompos (2,5-5 ton/ha) dan pupuk buatan TSP (120-200 kg/ha). Pupuk dasar diberikan pada 1-3 hari sebelum tanam dengan cara disebar dan diaduk rata dengan tanah. Pupuk susulan berupa Urea (100-200 kg/ha), ZA (300-400 kg/ha) danj KCl (150-200 kg/ha) dan diberikan pada umur 10-15 hari setelah tanam dan 30 hari setelah tanam, masing-masing setengah dosis.

- Lahan sawah.
Pupuk dasar berupa pupuk buatan SP-36 (90 P2O5 kg/ha) yang diberikan pada 1-3 hari sebelum tanam dengan cara disebar dan diaduk rata dengan tanah. Pupuk susulan sebanyak 180 kg N/ha (1/2 N Urea + 1/2 N ZA) dan K2O (50-100 kg/ha) yang diberikan pada umur 10-15 hari setelah tanam dan 30 hari setelah tanam, masing-masing setengah dosis.

b. Penyiraman
Meskipun tanaman bawang merah tidak menyukai banyak hujan, tanaman ini memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya dengan penyiraman. Pertanaman di lahan bekas sawah memerlukan penyiraman yang cukup dalam keadaan terik matahari. Pada musim kemarau, biasanya disiram satu kali sehari pada pagi atau sore hari sejak tanam sampai umur menjelang panen. Penyiraman yang dilakukan pada musim hujan hanya ditujukan untuk membilas daun tanaman dari tanah yang menempel pada daun bawang merah. Pada periode kritis yaitu saat pembentukan umbi jangan sampai kekurangan air karena bisa menurunkan produksi. Oleh karena itu perlu pengaturan ketinggian muka air tanah (khusus pada lahan bekas sawah) dan frekuensi pemberian air pada tanaman bawang merah.

c. Penyiangan dan pendangiran 

Penyiangan dan pendangiran dilakukan pada saat menjelang pemupukan susulan ke-1 dan ke-2.

d. Pengendalian OPT

Pengendalian menggunakan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu :
- Pengendalian secara kultur teknis, antara lain pemupukan berimbang dan penggunaan varietas tahan OPT, dan penggunaan musuh alami (parasitoid, predator, dan pathogen serangga).
- Pengendalian secara mekanik, yaitu dengan pemotongan daun yang sakit atau terdapat kelompok telur Spodoptera exigua, penggunaan kelambu kasa/shading net dan penggunaan jenis perangkap (feromon seks, perangkap kuning, perangkap lampu, dll).

Penggunaan bio-pestisida.
Penggunaan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian , dengan memperhatikan pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

5. Panen dan Pasca Panen

Bawang merah dapat dipanen pada umur 60-70 hari setelah tanam (tergantung varietas). Ciri - cirinya adalah pangkal daun sudah lemas jika dipegang, daun (70-80%) berwarna kuning, umbi sudah terbentuk dengan penuh dan kompak, sebagian umbi sudah terlihat di permukaan tanah, umbi berwarna merah tua atau merah keunguan serta berbau khas, dan sebagian besar (>80%) daun tanaman telah rebah.

Panen dilakukan dengan cara mencabut seluruh tanaman. Produksi umbi kering mencapai 6-25 ton/ha. Panen sebaiknya dilakukan pada keadaan tanah kering dan cuaca cerah untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi di gudang. Untuk mempermudah penanganan, setiap 5-10 rumpun diikat pada sepertiga daun bagian atas.

Umbi dijemur selama 2 minggu di bawah sinar matahari langsung dengan tahapan pertama, pelayuan daun dengan menjemur bagian daun selama 2-3 hari dan kedua, pengeringan dengan cara menjemur bagian umbi bawang merah di bawah sinar matahari langsung selama 7-14 hari, dengan melakukan pembalikan setiap 2-3 hari. Pengeringan dapat juga dilakukan dengan alat pengering khusus (oven) hingga mencapai kadar air 80%.

Kemudian umbi disimpan dalam bentuk ikatan yang digantungkan pada rak-rak bambu. Jika disimpan dalam bentuk “rologan” (umbi dilepas dari daunnya), umbi harus diberi perlakuan dengan semen (100 gr semen untuk 10 kg umbi) untuk menekan pertunasan lalu umbi diletakkan dalam rak-rak anyaman bambu (suhu penyimpanan antara 30-330C, kelembaban nisbi antara 65-70%).

Pengendalian Penyakit Layu Pada Cabai


Penyakit layu merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman cabai. Penanganan yang kurang  tepat dapat menyebabkan tingkat serangan yang tinggi, sehingga kegagalan usahatani tidak dapat dihindarkan. 

Berikut ini dua jenis penyakit layu pada tanaman cabai :

1. Penyakit layu fusarium
Layu fusarium (Fusarium oxysporum) adalah penyakit layu yang disebabkan oleh serangan jamur. Tanda dari serangan penyakit ini, yaitu bagian tanaman yang terserang penyakit tidak berlendir dan tidak berbau. Jika bagian tanaman tersebut dicelupkan ke dalam air selama beberapa menit, tidak terjadi perubahan yang signifikan pada warna air.

Gejala penyakit layu fusarium ialah tanaman akan menjadi layu di siang hari dan segar kembali pada sore hari. Penyakit layu fusarium dapat dikendalikan dengan cara berikut ini.
  1. Pakailah varietas tanaman yang memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit ini.
  2. Berikan fungisida yang mengandung bahan aktif binomil.
  3. Mengendalikan nematoda tanah penyebab timbulnya luka pada akar.
  4. Memanfaatkan tricoderma sebagai agen hayati pengendali jamur.
  5. Mencegah infeksi pada alat pertanian yang digunakan.

2. Penyakit layu bakteri
Layu bakteri (Psedomonas solanacaearum) merupakan penyakit layu yang disebabkan oleh serangan bakteri. Untuk membedakan antara penyakit ini dan penyakit layu fusarium, Anda bisa mencabut tanaman yang sakit lalu memotong bagian akarnya.

Jika penyakit tersebut merupakan penyakit layu bakteri, pada bekas potongan tadi akan berlendir dan berbau. Anda juga bisa mencelupkan bekas potongan tadi ke dalam air, maka tampak seperti asap yang larut di dalam air.

Penyakit layu bakteri lebih berbahaya daripada penyakit layu fusarium karena serangannya berlangsung sangat cepat. Beberapa upaya untuk mengendalikannya sebagai berikut.
  1. Manfaatkan Pseudomonas fluerescens atau Bacillus subtilis sebagai agen hayati.
  2. Pakailah pupuk kandang yang telah masak dan terfermentasi untuk meningkatkan jumlah bakteri baik.
  3. Gunakan pupuk urea dengan dosis yang tepat.
  4. Celupkan bibit tanaman ke dalam bakterisida yang mengandung bahan aktif agrimycin.
  5. Mengatur sistem irigasi di lahan sebaik-baiknya agar tidak terjadi genangan air.

Kenali Jenis-Jenis Pupuk Yang Disubsidi


Sudah banyak diketahui bahwa penggunaan pupuk pada tanaman difungsikan untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan, serta menjaga dari serangan hama. Tidak jarang, petani juga memberikan pupuk agar tanaman bisa menghasilkan buah yang lebih banyak dengan kualitas yang baik sehingga meningkatkan hasil panen. Ada beberapa jenis pupuk bersubsidi yang dipakai oleh kalangan petani dengan manfaat yang berbeda pada tanaman. Agar tidak salah dalam pemberian, ada baiknya pahami dulu kegunaan tiap pupuk bersubsidi yang beredar di pasaran.

1. Urea

Pupuk yang memiliki rumus kimia CO(NH2)2 ini terbuat dari percampuran gas amoniak (NH3) dan gas asam arang. Dalam setiap 100kg pupuk urea mengandung 46kg nitrogen. Pupuk urea yang disubsidi akan memiliki bentuk kristal dengan warna yang beragam antara putih dan merah muda. Dari semua jenis pupuk yang beredar di pasaran, urea menjadi salah satu yang banyak digunakan oleh para petani karena kegunaannya yang sangat bermanfaat baik untuk lahan pertanian maupun budidaya.

Dengan kadar nitrogen yang sangat tinggi pada pupuk bersubsidi ini, membuat pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi lebih cepat. Nitrogen juga membantu tanaman memiliki banyak klorofil sehingga memudahkan proses fotosintesis sehingga menghasilkan tanaman yang berdaun hijau, segar, dan rimbun.

2. SP-36 (super phosphate)

SP-36 memiliki reaksi kimia yang tergolong netral namun mudah terbakar oleh matahari. Pupuk ini sangat bisa digunakan pada berbagai macam jenis tanaman seperti tanaman pangan, perkebunan, dan holtikultura. Sesuai dengan namanya, super phosphate, pupuk SP-36 memiliki peran utama sebagai penambah unsur hara phosphor pada tanaman.

Dengan penambahan pupuk SP-36, tumbuhan akan menghasilkan buah yang lebih banyak sehingga bisa menguntungkan para petani. Pupuk bersubsidi ini juga bisa memperbaiki kualitas biji, merangsang pembelahan tanaman, mempercepat pemasakan buah, menguatkan batang tanaman, dan memperbesar jaringan sel.


3. ZA

Pupuk bersubsidi yang mengandung 21% nitrogen dan 24% sulfur ini memiliki reaksi kerja yang lumayan agak lambat sehingga seringnya digunakan oleh petani sebagai pupuk dasar saja pada tanaman. Pupuk ZA ini sengaja dibuat untuk menambah unsur hara pada tanaman. Manfaatnya dalam dunia pertanian adalah untuk memperbaiki kualitas tanaman serta menambah nilai gizi pada hasil panen. Pemberian pupuk ZA pada tanaman juga bisa menghindarkannya dari ancaman lingkungan yang bisa merusak seperti hama, kekeringan, dan penyakit.


4. NPK

Pupuk NPK menjadi yang paling banyak memiliki unsur kandungan zat hara yang sangat dibutuhkan tanaman yaitu nitrogen, fosfat, kalium, magnesium, dan kalsium. Hal itulah yang kemudian membuat pupuk NPK digunakan sebagai penyeimbang unsur hara makro dan mikro pada tanah. Manfaat utama pupuk NPK adalah pada pertumbuhan akar tanaman agar lebih kuat, banyak, panjang sehingga mudah menyerap zat hara di tanah. Pupuk NPK juga bisa digunakan untuk mencegah tanaman supaya tidak kerdil.


5. Organik

Pupuk organik terbuat dari bahan alami sisa makhluk hidup seperti pelapukan kayu, sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia. Karena terbuat dari bahan alami, pupuk organik bisa meningkatkan kadar kandungan bahan organik dan unsur hara dalam tanah, sehingga bisa meningkatkan produktivitas lahan pertaniannya. Bisa dibilang fokus penggunaan pupuk organik adalah untuk memudahkan proses pengolahan lahan yang dipakai untuk lahan pertanian, mencegah erosi, serta meningkatkan kesuburan tanah.

Dengan adanya berbagai jenis pupuk bersubsidi yang memiliki manfaat serta peran yang berbeda, diharapkan bisa memudahkan petani untuk menghasilkan panen yang menguntungkan. Selain itu, petani juga diberikan keleluasaan untuk memilih pupuk mana yang digunakan pada tanaman produksinya.

Strategi Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat (WBC) Dan Virus Kerdil Rumput Dan Kerdil Hampa


Hama wereng batang coklat (WBC) merupakan hama utama tanaman padi sehingga menjadi hama yang sangat ditakuti petani karena bisa mengakibatkan gagal panen (fuso).WBC merupakan hama r-strategis; menghisap cairan batang tumbuhan padi, dapat berkembang biak dengan cepat, dan cepat menemukan habitatnya serta mudah beradaptasi dengan membentuk biotipe baru. Selain itu, hama ini menularkan juga penyakit virus kerdil hampa (VKH), virus kerdil rumput tipe 1 (VKRT-I) dan virus kerdil rumput tipe 2 (VKRT-2). Pada saat vegetatif VKH menyebabkan daun rombeng, tercabik, koyak, atau bergerigi, terkadang berwarna putih. tumbuh kerdil dengan tinggi 23,8-66,9% tertekan, keluar malai diperpanjang sampai 10 hari. Saat keluar malai tidak normal (tidak keluar penuh), daun bendera terjadi distorsi. Saat pematangan buah tidak mengisi dan menjadi hampa.

Perkembangbiakan WBC

WBC berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah dan tulang daun.Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.Satu ekor betina mampu meletakkan telur 100-500 butir.Telur menetas setelah 7-10 hari.Muncul wereng muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini menjadi wereng dewasa.Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa.

Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan periode nimfa adalah 12.82 hari. Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng batang coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal. Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng batang coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter.

Pada daerah lain stadium telur membutuhkan waktu antara 7-11 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat. Stadium nimfa terjadi 5 kali pergantian kulit dan waktu yang dibutuhkan pada masing-masing instar adalah 2-4 hari (lihat gambar 2) Wereng batang coklat dewasa mempunyai dua bentuk, sayap panjang (makroptera) dan sayap pendek (brakiptera). Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera populasi penetap.Suhu optimum untuk perkembangan antara 18-280C.

Serangan WBC tanaman Padi

Hama WBC yang berkembang pada tanaman padi ketika membentuk anakan dimulai oleh wereng bersayap panjang yang berpindah dari tempat lain. Jika wereng yang berkembang pada tanaman padi yang berumur 2 atau 3 minggu setelah tanam, maka WBC bisa berkembang biak menjadi dua generasi (Gb.1). Tetapi bila wereng yang menyerang tanaman padi yang

berumur 5-6 minggu setelah tanam, wereng yang berkembang biak hanya satu generasi yang puncak populasinya terjadi pada padi umur 9-10 minggu setelah tanam.

Pengamatan hama wereng harus dilakukan secara intensif dan rutin. Jangka waktu pengamatan minimal 3 hari sekali dan jika ada gejala muncul wereng segera dihitung populasinya.Jika populasi per rumpun 7-9 segera diatasi dengan pengendalian pestisida baik secara hayati maupun kimiawi.



Strategi Pengendalian WBC dan Virus Kerdil

1. Tanam Padi Secara Serentak

Tanam padi secara serentak dalam areal yang luas tidak dibatasi oleh batas administrasi. Wereng coklat imigran terbang bermigrasi tidak dapat dihalangi oleh sungai atau lautan. Bila suatu daerah panen atau puso maka wereng makroptera (bersayap panjang) akan terbang bermigrasi mencari tanaman muda dalam populasi tinggi, hinggap (landing) dan berkembang biak pada tanaman padi muda. Bila areal tempat migrasi sempit, maka populasi imigran akan padat.

2. Penggunaan Varietas Tahan

Penggunaan varietas tahan disesuaikan dengan keberadaan biotipe wereng coklat yang ada di lapangan. Saat ini, biotipe wereng coklat yang berkembang di lapang didominasi oleh biotipe 3 dan dibeberapa tempat telah ada biotipe 4 sehingga memerlukan varietas unggul baru (VUB) yang memiliki ketahanan terhadap biotipe tersebut. Badan Litbang Pertanian telah menyediakan beberapa VUB yang tahan terhadap biotipe tersebut, yaitu Inpari 13, Inpari 31 dan Inpari 33.

3. Perangkap Lampu (Light traps)

Wereng yang pertama kali datang dipesemaian atau pertanaman adalah wereng makroptera betina/jantan imigran. Pasang lampu perangkap (Gb.2) sebagai alat untuk menentukan kapan datangnya wereng imigran. Alat ini penting untuk mengetahui kehadiran wereng imigran dan dapat menangkap wereng dalam jumlah besar.

Lampu perangkap dipasang pada ketinggian 150-250 cm dari permukaan tanah.Hasil tangkapan dengan lampu 100 watt dapat mencapai 400.000 ekor/malam. Keputusan yang diambil setelah ada wereng pada perangkap lampu:

- Wereng-wereng yang tertangkap dikubur
- Keringkan pertanaman padi sampai retak
- Segera setelah dikeringkan, kendalikan wereng pada tanaman padi dengan insektisida yang direkomendasi

4. Waktu Pesemaian Padi

Penetapan waktu pesemaian ditentukan oleh kapan puncak wereng imigran yang tertangkap lampu perangkap. Bila datangnya wereng imigran tidak tumpang tindih antara generasi maka pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran.

Bila datangnya wereng dari generasi yang tumpang tindih, maka akan terjadi bimodal (dua puncak). Pesemaian hendaknya dilakukan pada 15 hari setelah puncak imigran ke-2.

5. Tuntaskan Pengendalian Pada Generasi 1

Catat waktu puncak populasi imigran awal sebagai generasi nol (G0), maka pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1, pda 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2, pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-3.

Pengendalian wereng yang baik yaitu:
Pada saat ada imigran makroptera generasi nol (G0) dan saat generasi ke 1 (G1) yaitu nimfa-nimfa yang muncul dari wereng imigran
Gunakan insektisida dengan bahan aktif, pymetrozine, dinotefuran, sebaiknya satu jenis insektisida tidak digunakan terus menerus dalam jangka waktu lama.
Pengendalian wereng harus selesai pada generasi ke 1 atau paling lambat pada generasi ke 2.
Pengendalian saat generasi ke 3 tidak akan berhasil.

6. Pengamatan Wereng Coklat di Pertanaman

Pengamatan atau Monitoring wereng coklat pada 1-2 minggu sekali. Ambil contoh 20 rumpun arah diagonal. Hitung jumlah wereng coklat pada minggu ke- i (Ai) dan musuh alami laba-laba + Paederus +Ophionea+Coccinella pada minggu ke-i (Bi) dan Cyrtorhinus pada minggu ke-i (Ci).

7. Penggunaan Insektisida

Penggunaan insektisida harus memperhatikan berbagai factor, antara lain:
Keringkan area sawah sebelum aplikasi insektisida baik yang semprotan atau butiran
Aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada antara pukul 08.00 pagi sampai pukul 11.00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang padi.
Tepat dosis dan jenisnya yaitu yang berbahan aktif Pymetrozine, dinotefuran.

8. Pengendalian Double Cover

Bila insektisida semprotan yang digunakan tidak atau kurang manjur maka pengendalian wereng coklat perlu didobel dengan memberikan insektisida sistemik melalui akar.

9. Pengendalian Penyakit Virus Kerdil

Sampai saat ini tidak ada virusida atau bahan lain yang dapat dipakai untuk mengendalian penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput (Gb3). Usaha yang dapat dilakukan adalah:
- Kendalikan wereng coklat terutama makroptera/bersayap sampai populasi serendah mungkin
- Hindari kontak inokulum penyakit dengan wereng coklat
- Cabut dan benamkan inokulum penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput


Sumber : BPTP Jawa Barat